Pelajaran Seharga 10 Juta Rupiah tentang Penipuan

In Editorial by Bintoro Adi Guna1 Comment

pelajaran-penipuan-gambar-utama
Artikel kali ini akan membahas tentang penipuan, dan akan menjadi artikel yang panjang.

Do you speak English? Read the translated article here!

Yah, sejujurnya, Penulis termasuk salah seorang yang optimis tentang tahun 2021. Dengan segala bencana dan pandemi global yang terjadi di tahun 2020, tidak heran kalau ada banyak orang yang optimis untuk tahun ini. Namun sayangnya, hal ini tidak berlaku bagi Penulis. Di awal tahun 2021 ini, Penulis menjadi korban penipuan kartu kredit. Jumlahnya? Yah, lihat saja di judul artikel ini.

Singkat cerita, insiden tersebut tidak berakhir sesuai keinginan Penulis, dan Penulis terpaksa membayar sejumlah itu. Penulis tentu saja marah, jengkel, trauma… sangat marah hingga Penulis bersumpah untuk tidak pernah mengontak bank itu lagi. Lagi, Penulis juga memutuskan untuk membagikan pengalaman tidak enak ini supaya tidak ada diantara Anda yang akan mengalami hal yang sama seperti Penulis.

Penulis akan menceritakan pengalamannya secara berurutan, dan ada beberapa poin yang perlu diperhatikan:

  • Cerita ini panjang, dan kebanyakan akan berisi teks.
  • Artikel ini, tentu saja, ditulis menurut bias Penulis. Penulis tidak mau repot-repot meminta opini bank karena mereka memberikan Penulis jawaban yang sama hingga beberapa kali!
  • Ada beberapa bagian di artikel ini dimana Penulis akan menggunakan bahasa yang sedikit kasar.

Ceritanya – Secara Kronologis

Insiden Penipuan: Awal Mulanya

Pada suatu malam, Penulis mulai menerima banyak SMS OTP yang biasa kita terima ketika kita menggunakan kartu kita untuk berbelanja secara online. Pada awalnya, Penulis tidak menghiraukan pesan tersebut, karena Penulis tahu bahwa transaksi tersebut tidak akan bisa berhasil tanpa kode OTP yang tepat.

pelajaran-penipuan-serangan-sms-otp
Insiden ini bermula dari banyaknya serangan SMS yang meminta kode OTP untuk menyelesaikan transaksi.

SMS tersebut terus datang selama beberapa menit, hingga akhirnya Penulis menerima sebuah panggilan telepon. Nomor pemanggilnya sama persis dengan nomor Customer Service bank yang mengeluarkan kartu kredit Penulis tersebut. Penulis kira panggilan ini berkaitan dengan transaksi-transaksi tidak dikenal tersebut, jadi Penulis menerima panggilan itu.

pelajaran-penipuan-nomor-yang digunakan-penipu
Nomor yang digunakan penipu untuk menelepon Penulis. Nomor ini kemungkinan besar telah dipalsukan.

Dan ya, penelepon tersebut mengklaim kalau dirinya memang berasal dari bank yang bersangkutan, dari bagian anti-fraud, atau bagian yang biasa mengurus penipuan semacam ini. Orang itu mengklaim kalau kartu kredit Penulis telah terbobol. Mereka menawarkan bantuan untuk membatalkan transaksi-transaksi tersebut, tapi untuk melakukannya, mereka butuh kode OTP.

Awalnya, Penulis tidak percaya. Ya, karena pesannya jelas mengatakan bahwa JANGAN PERNAH MEMBERIKAN OTP KEPADA SIAPAPUN, TERMASUK PIHAK BANK. Penulis terlibat dalam percakapan yang cukup panjang dengan penipu. Penulis terus mencoba meyakinkan bahwa dia adalah staf bank asli. Satu hal yang terus bajingan itu tekankan adalah nomor yang dia gunakan, yang memang adalah nomor customer service bank itu, yang tertera di kartu kreditnya. Sepanjang percakapan itu berjalan (sekitar 25 menit), SMS OTP transaksi terus berdatangan.

Setelah percakapan yang panjang, Penulis akhirnya menyerah. Penipu ini berhasil meyakinkan Penulis kalau dia membutuhkan kode OTP untuk menghentikan transaksi. Bahkan, hingga memberitahukan Penulis bahwa SMS baru akan datang, dengan menyebutkan jumlah dan merchant yang tepat (jelas saja, dia Penipunya…). Penulis hingga saat ini terus menyesali keputusannya untuk menyerah, dan memberikan bajingan tersebut kode OTP-nya. Penulis masih curiga, tapi penjelasannya sangat meyakinkan, dan yang benar-benar meyakinkan Penulis adalah nomor yang dia gunakan.

Penulis sangat kaget, dan sangat, sangat marah ketika Penulis melihat ada pesan baru masuk: Sebuah transaksi di sebuah platform eCommerce dengan nilai 10 juta Rupiah telah berhasil. Si keparat itu terus meyakinkan Penulis bahwa itu adalah pesan pembatalan. Kemudian Penulis sudah jengkel. Bajingan itu masih berani meminta 4 kode OTP lagi untuk membatalkan semua transaksi itu. Jelas saja, setelah itu Penulis merasa seperti tersambar petir. Penulis sudah tidak percaya lagi dengan apapun yang bajingan itu katakan. Penulis langsung menutup telepon sialan itu.

Tentu saja, Penipunya tidak menyerah. Dia mencoba menelepon Penulis lagi, tapi saat ini, nomornya disembunyikan. Masih dalam keadaan shock, tanpa perlu dijelaskan lagi, Penulis langsung me-reject telepon sialan itu. Kemudian, Penulis menyadari bahwa dirinya baru saja menjadi korban penipuan, dengan nomor hasil spoofing.

Masih merasa kaget dan tertekan, Penulis langsung membuka aplikasi bank tersebut dan mengecek penggunaan kartu kredit. Penulis makin terkejut ketika mengetahui bahwa tidak hanya satu, bahkan dua transaksi yang masuk, berjumlah Rp10.978.000. Jumlah yang fantastis.

pelajaran-penipuan-transaksi-berhasil
Transaksi penipuan yang tidak Penulis lakukan.

Insiden Penipuan: Mencari Jalan Keluar

Marah dan terkejut, Penulis langsung menelepon customer service bank yang bersangkutan. Penulis memberitahukan semuanya ke staf itu. Dia kemudian menanyakan apakah Penulis memberikan kode OTP-nya. Penulis mengaku saja, terutama tentang nomor yang digunakan oleh bajingan itu, yang sama dengan nomor customer service bank itu.

Kemudian, staf customer service tersebut mengatakan sesuatu yang membuat Penulis lebih marah lagi: Penulis seharusnya tidak memberikan kode OTP tersebut, karena seperti bunyi SMS-nya, Jangan pernah memberikan kode OTP kepada SIAPAPUN. Berikutnya, staf tersebut mengatakan bahwa nomor tersebut hanya nomor customer service hanya bisa digunakan untuk panggilan masuk. Nomor tersebut tidak bisa digunakan untuk panggilan keluar. Penulis mengumpat dalam hati, “Bangsat, bagaimana aku bisa tahu informasi seperti itu!?” Jujur saja, bagi Penulis, itu adalah informasi baru. Penulis merasa seperti disalahkan atas kesalahannya sendiri, sesaat setelah tertipu 10 juta Rupiah. “Itu salahmu karena kamu tidak tahu informasi tentang nomor customer service kami.”

Puncak kemarahan Penulis sampai ketika staf tersebut mengatakan kepada Penulis kalau sebuah transaksi sudah masuk dengan menggunakan OTP, transaksi tersebut bersifat final. Bank tidak bisa melakukan apapun tentang itu, karena transaksi tersebut dianggap sebagai resmi, dan dibuat dengan persetujuan nasabah. Ketika mendengar itu, kesabaran Penulis habis. Penulis berteriak dan memaki-maki staf tersebut. Brengsek, jika Penulis tahu tentang nomor customer service itu, Penulis tidak akan ada dalam situasi ini! Ya, jelas, bank tidak akan melakukan apa-apa karena mereka tidak mau kehilangan uang. Biarkan saja nasabah awam yang tidak bisa apa-apa yang membayar, karena salah mereka sendiri kena tipu.

marah-di-telepon
Disalahkan karena tidak tahu tentang nomor customer service mereka membuat Penulis marah.

Setelah itu, Penulis masih belum menyerah. Penulis berusaha menelepon kedua platform eCommerce yang bersangkutan untuk meminta mereka membatalkan transaksi-transaksi tersebut. Sayangnya, pada saat itu, sudah larut malam, sekitar pukul 11 malam. Tentu saja Penulis tidak bisa tidur. Penulis hampir harus membayar uang sebanyak itu, bagaimana Penulis bisa tidur nyenyak?

Salah satu eCommerce tidak menjawab, dengan alasan mereka sedang dalam mode operasi terbatas karena COVID-19, dan menyarankan Penulis mencoba lagi keesokan paginya. eCommerce ke-dua lebih baik. Layanan konsumen mereka sudah siap, dan mendengarkan keluhan Penulis. Sayangnya, mereka tidak bisa membantu, karena mereka butuh lebih banyak bukti, terutama bukti yang menyatakan kalau sebuah transaksi telah berhasil, baik dalam bentuk SMS maupun e-mail. Untuk bukti yang ke-dua, tentu saja Penulis tidak punya, karena transaksi tersebut tidak dibuat dengan akun Penulis, dan bank ini tidak pernah memberikan bukti transaksi berhasil lewat e-mail. Untuk SMS, Penulis juga tidak menerimanya. Sangat aneh, karena Penulis mendapatkan transaksi pertama lewat SMS, tapi tidak yang ke-2. Kejadian ini tentu saja sangat disayangkan dan memprihatinkan.

Keesokan harinya, Penulis menghubungi platform eCommerce yang satunya. Penulis menceritakan semua kejadiannya, dan staf tersebut mendengarkannya. Sayangnya, dia tidak bisa melakukan apa-apa karena transaksi yang dilakukan oleh penipu sialan itu adalah transaksi digital. Jika bajingan itu melakukan transaksi fisik, maka staf tersebut bisa membatalkan transaksi itu secepatnya. Staf tersebut menyarankan Penulis untuk melapor ke polisi. Tentu saja, Penulis tidak bisa menyalahkan staf tersebut, tapi Penulis tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya bahwa bank adalah harapan Penulis satu-satunya.

Pada hari itu, Penulis mendapat ide lain. Penulis punya teman yang pernah bekerja di bank tersebut. Penulis bertanya apakah dia punya teman yang bisa Penulis hubungi untuk membantu. Walaupun Teman Penulis ini tidak menjanjikan apa-apa (yang sangat, sangat bisa dimengerti), dia meneruskan cerita Penulis ke temannya, yang berpendapat bahwa kasus serupa sering terjadi belakangan ini. Bahkan, atasan dari temannya ini juga jatuh dalam tipuan yang sama. Hm, jelas Penulis ingin tahu bagaimana kelanjutan kasus ini untuk atasan yang satu ini.

Insiden Penipuan: Akhir Cerita

Sayangnya, setelah beberapa hari, setelah beberapa panggilan telepon ke bank, Penulis tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Mereka terus mengatakan hal yang sama pada Penulis: Transaksi yang dibuat dengan OTP bersifat final dan resmi. Bank tidak bisa (atau tidak mau) membatalkan itu. Mereka menyarankan Penulis untuk melaporkan kasus ini ke polisi, dimana mereka menyatakan untuk siap menjadi saksi. Apapun hasil kasusnya, Penulis tetap harus membayar.

Setelah beberapa hari, tagihan kartu kredit Penulis akhirnya muncul lewat email, termasuk 2 transaksi hasil penipuan itu. Sekarang, walaupun Penulis bisa saja melaporkan kasus ini ke polisi, Penulis memutuskan untuk tidak melakukannya. Mengapa, karena prosesnya bisa panjang, dan Penulis tidak yakin Penulis bisa mengikuti seluruh prosesnya. Penulis masih punya pekerjaan, Penulis masih punya kehidupan, dan hal-hal lain yang bisa dilakukan. Apapun hasilnya, Penulis masih tetap harus membayar, jadi tidak ada keuntungan yang bisa didapat dari melaporkan ke pihak berwajib. Penulis hanya akan membuang waktu, energi, bahkan kewarasan / kesehatan mental.

Jadi, apa yang Penulis lakukan? Penulis membayar tagihan sialan itu, menutup kartu kreditnya, menguras habis rekening Penulis di bank itu, pindah ke bank lain, dan meng-uninstall aplikasi bank sial itu. Penulis tidak akan pernah mau lagi mendengar kabar atau berurusan dengan bank itu lagi, kecuali Penulis mendapatkan uangnya kembali. Penulis sudah sangat kecewa karena sebagai nasabah awam yang tertipu, respon yang Penulis dapat hanyalah “Salah Anda karena telah memberikan kode OTP”.

Terlepas dari semua itu, hingga saat ini, Penulis masih punya beberapa pertanyaan yang belum terjawab, seperti bagaimana mereka bisa punya nomor kartu kredit Penulis? Kartu ini selalu ada di dompet Penulis. Untuk toko online, Penulis menggunakan kartu itu kurang dari 5x. Di toko offline, Penulis selalu membayar secara langsung, tidak pernah memberikan kartu itu kepada kasir. Penulis curiga ada kebocoran data di suatu tempat.

Ya, 10 juta Rupiah bukanlah nilai yang kecil. Penulis sangat terganggu dan terlarut dengan insiden ini hingga tidak bisa tidur selama beberapa hari, dan hampir kehilangan nafsu makan. Jadi, iya, Penulis tidak menyesal atas keputusannya membayar tagihan sialan itu. Kewarasan dan kesehatan Penulis lebih penting dari uang senilai 10 juta Rupiah itu.

depresi
Insiden ini sangat mengganggu Penulis hingga tidak bisa tidur selama beberapa hari.

Tentu saja, Penulis sangat berterima kasih kepada semuanya yang sudah mendukung, atau bahkan mau membantu (pasangan, kerabat, teman), tapi keputusan Penulis sudah bulat. Penulis tidak pernah mengalami apapun seperti ini di bank lain (semoga tidak pernah lagi!), dan Penulis tidak pernah menerima hinaan seperti ini, disalahkan karena kena tipu. Kepercayaan Penulis sudah hilang. Pernyataan bahwa bisnis keuangan adalah tentang kepercayaan adalah benar. Ketika Anda, sebagai seorang nasabah, kehilangan kepercayaan, maka Anda akan pergi dan tidak akan pernah kembali.

Untuk memperjelas saja, keputusan ini adalah murni keputusan Penulis, opini pribadi Penulis. Tidak ada maksud untuk mem-boikot bank ini, karena Penulis tahu Penulis bukanlah siapa-siapa. Penulis hanya membagikan cerita pahit ini supaya Anda selalu waspada. Di luar sana adalah dunia yang liar, dan kebanyakan dari kita hanyalah nasabah kecil yang tidak berdaya. Mencari bantuan ketika Anda terlarut dalam kasus ini, sayangnya, tidak akan mudah.

Pelajaran Berharga tentang Penipuan

Setidaknya belajar dari kejadian ini, Penulis mendapatkan beberapa pelajaran penting yang bisa diambil:

Hati-hati dengan Panggilan yang Tidak Diketahui

Penipuan seperti ini dimulai dari ponsel Anda. Kapanpun Anda menerima panggilan dari seseorang yang tidak Anda kenal, waspadalah, atau bahkan abaikan saja. Penulis tahu ini terdengar kasar, tapi melihat bagaimana data pribadi kita dapat dengan mudah tersebar tanpa persetujuan kita, bagaimana kita bisa tidak paranoid?

Nomor Telepon dapat Dipalsukan

Penulis tidak ingin mengabarkan ini, tapi kemungkinan besar, nomor yang digunakan oleh penipu sialan itu adalah nomor palsu hasil spoofing. Praktek ini ternyata cukup umum di dunia penipuan, dimana ponsel Anda akan menunjukkan nomor yang berbeda dari aslinya, meniru nomor customer service yang sesungguhnya.

Namun hingga hari ini, Penulis masih bertanya… Kenapa bank ini?

JANGAN MEMBERIKAN KODE OTP KEPADA SIAPAPUN

Ini adalah kesalahan terbesar Penulis. SMS tersebut benar, kode OTP seharusnya tidak boleh diberikan kepada siapapun. KODE OTP HANYA PUNYA SATU TUJUAN: UNTUK MENGIJINKAN TRANSAKSI, bukan sebaliknya.

Membutuhkan kode OTP untuk melakukan apapun selain menyetujui transaksi hanyalah omong kosong!

Perhatikan Baik-baik Rekening Keuangan Anda

Sebelum insiden ini, Penulis punya 4 kartu kredit dari bank yang berbeda-beda. Setelah kasus penipuan ini, Penulis sadar bahwa kartu kredit tersebut bukanlah aset, melainkan risiko, jika Anda tidak bisa memperhatikan mereka dengan baik.

Jadi, nasihat Penulis, jika Anda punya rekening bank atau kartu kredit yang tidak Anda butuhkan, atau tidak bisa Anda perhatikan, lebih baik ditutup saja. Anda tidak pernah tahu bagaimana hal-hal tersebut bisa “menggigit” Anda seperti yang Penulis alami.

Prioritaskan Diri Anda

Menjadi korban penipuan bisa membuat Anda trauma. Ambillah beberapa saat untuk menenangkan diri Anda, lakukan beberapa latihan napas, dan cobalah mengambil keputusan dengan kepala dingin. Apapun keputusan Anda, tolong prioritaskan diri Anda sendiri terlebih dahulu.

Bukan bermaksud meremehkan kehilangan Anda, tapi tidak ada materi yang bisa menggantikan kesehatan dan kewarasan Anda. Kehilangan kedua hal tersebut karena kasus penipuan seperti ini tentu saja sangat tidak sepadan.

Jadilah Pendengar yang Baik

Meskipun ini tidak berkaitan dengan penipuan, Penulis ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengatakan jika seorang teman datang kepada Anda dan bercerita bahwa dia telah tertipu, tolong dengarkan cerita mereka terlebih dahulu. Tolong jangan menghakimi, menyalahkan, atau bahkan mengatakan kepada mereka apa yang seharusnya mereka lakukan ketika kejadian itu sedang berlangsung, kecuali mereka sendiri yang memintanya. Penulis yakin mereka akan sangat menghargainya, karena Penulis merasakannya sendiri. Disalahkan ketika Anda sedang bersedih rasanya sangat-sangat sedih dan menjengkelkan secara bersamaan.

Semua Orang bisa Kena

Sebenarnya, pelajaran ini adalah yang paling memalukan bagi Penulis. Penulis tahu bahwa Penulis punya keahlian di bidang IT, dan Penulis juga sedang bekerja di sebuah bank. Penulis seharusnya paham dengan trik-trik penipuan seperti ini. Namun, penipu sialan tersebut berhasil mengalahkan Penulis. Hal ini memaksa Penulis untuk mengakui bahwa Penulis tidak aman, dan Anda juga.

Dimanapun Anda bekerja, apapun pekerjaan Anda, Anda bisa menjadi korban penipuan semacam ini. Ya, bahkan mereka yang bekerja di bank sebagai spesialis keamanan. Mengapa, karena kita hanyalah manusia biasa. Kita tidak sempurna. Itulah mengapa kita harus waspada sepanjang waktu.

Yah, akhirnya selesai juga. Jika Anda membaca hingga bagian ini, Penulis sangat, sangat berterima kasih karena bersedia membaca keluhan yang panjang ini. Menuliskan ini cukup melegakan Penulis. Penulis harap Anda mendapatkan pesannya dan Penulis juga berharap, Anda tidak akan mengalami hal seperti ini. Untuk si penipu bangsat, Penulis harap mereka mendapatkan balasan yang setimpal. Hukum karma itu nyata, dan Penulis harap mereka bisa menggunakan uang haram itu sebaik-baiknya. Oke, karena artikel ini sudah beres, Penulis akan kembali ke mendiskusikan teknologi dan me-review barang. Akhir kata, seperti biasa, terima kasih telah berkunjung, dan sampai jumpa di artikel berikutnya! 😀

Comments

  1. Pingback: Scam Lessons Worth 10 Million IDR | Technoverse

Leave a Comment